Logo
Live in 2026 : Menjadi Sahabat dan Bertumbuh bersama Alam
Tanggal Post

03 Februari 2026

Kategori
Entrepreneurship
live-in-2026-menjadi-sahabat-dan-bertumbuh-bersama-alam

Oleh: Veronica Andhita Sulistyawati, S.Psi

Kegiatan live in merupakan bagian dari pembelajaran lapangan yang dirancang untuk membantu siswa kelas 8 belajar langsung dari kehidupan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12-15 Januari 2026, melalui kolaborasi antara sekolah warga masyarakat, sebagai mitra pendamping yang mendukung proses pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi. Bertempat di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, live in menjadi ruang belajar nyata bagi siswa untuk mengimplementasikan berbagai pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah, terutama dalam mengamalkan nilai-nilai Serviam.

Selama tinggal bersama keluarga asuh, siswa terlibat langsung dalam aktivitas rumah tangga, berdagang, pertanian, dan peternakan. Mereka membantu merawat sawah atau kebun, memberi pakan ternak, membersihkan kandang, serta mengikuti berbagai pekerjaan harian keluarga asuh termasuk bekerja dan bermain bersama warga sekitar. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, bekerja bersama, dan berbincang tanpa distraksi gadget menghadirkan pengalaman kebersamaan yang bermakna. Banyak siswa menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan dan relasi yang tulus. Mereka menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih peduli pada orang lain, dan lebih terbuka dalam menjalin relasi. Dari proses berkegiatan bersama baik bersama keluarga asuh, workshop kerajinan, maupun dinamika bersama teman-teman mereka belajar bahwa tidak ada hasil yang instan; semua membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan konsistensi dalam proses.

Masyarakat Hargobinangun hidup selaras dengan lingkungan sekitarnya. Mereka memanfaatkan hasil alam secukupnya, merawat tanah dan ternak dengan penuh tanggung jawab, serta menerima keterbatasan sebagai bagian dari kehidupan. Pola hidup ini menghadirkan pengalaman pelajaran tentang slow living. Dari pengalaman hidup bersama, siswa mulai mengeksplorasi bahwa istilah slow-living bukan tentang bermalas-malasan, lambat dalam berproses, atau menunggu sampai nanti untuk mulai melakukan suatu pekerjaan. Namun menjalani hidup dengan kesadaran, tidak tergesa-gesa, dan menghargai setiap proses yang dijalani. Keterbatasan fasilitas, jauhnya dari kenyamanan, serta tuntutan aktivitas fisik rentan memunculkan rasa lelah dan tidak nyaman. Namun dari sinilah siswa belajar beradaptasi. Melalui pendampingan dan refleksi, siswa belajar mengenali perasaan mereka dan bertahan dalam proses. Perlahan, ketidaknyamanan berubah menjadi penerimaan, bahkan pemaknaan. Dari sinilah tumbuh ketahanan emosional, empati, serta resilien.

Selama kegiatan live in, siswa secara tidak langsung siswa diajak menghidupi salah satu falsafah Jawa: Memayu Hayuning Bawana, yang bermakna menjaga, memelihara, dan merawat keselarasan bumi bersama-sama. Melalui hidup berdampingan dengan alam dan masyarakat, mereka belajar mencintai lingkungan serta bertanggung jawab menjaga keseimbangan sebagai bagian dari alam itu sendiri.

 Kegiatan live in membuka ruang refleksi yang bermakna bagi siswa. Melalui aktivitas sederhana bersama keluarga asuh dan warga sekitar, muncul kerinduan akan rumah dan kebersamaan. Momen makan malam, mulai dari menyiapkan bahan, memasak, makan, hingga membereskan bersama anggota keluarga memberi kesan mendalam dan menyadarkan siswa akan pentingnya quality time serta kehadiran nyata dalam keluarga. Pengalaman lain yang menyentuh adalah makna sapaan dan kebersamaan sehari-hari. Banyak siswa tinggal bersama orang tua asuh yang hidup sendiri, sehingga kehadiran mereka membawa keceriaan di rumah yang biasanya sepi. Dari pengalaman tersebut, siswa berefleksi bahwa meski sering bertemu keluarga di rumah, perhatian dan waktu bersama kerap terabaikan karena kesibukan dan gawai. Live in juga mengajarkan mereka untuk lebih menghargai makanan, setelah melihat proses panjang dibaliknya, serta mengolah dan memanfaatkan alam dengan bijak dan bertanggung jawab. 

Sebagai bagian dari pengamalan nilai Cinta dan Belas Kasih, dalam kegiatan ini siswa juga diajak untuk berbagi dengan masyarakat sekitar yang kurang mampu. Secara berkelompok, perwakilan siswa menyalurkan paket sembako kepada warga dusun dengan pendampingan guru dan koordinator setempat. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memberi, tetapi juga menumbuhkan empati, rasa syukur, dan kesadaran bahwa kehadiran mereka dapat membawa makna bagi sesama.